Gurindam 12 Raja Ali Haji

  • Pasal Ketiga

    apabila terpelihara mata,
    sedikitlah cita-cita.

    apabila terpelihara kuping,
    khabar yang jahat tiadalah damping.

    apabila terpelihara lidah,
    nescaya dapat daripadanya faedah.

    bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
    daripada segala berat dan ringan.

    apabila perut terlalu penuh,
    keluarlah fi'il yang tiada senonoh.

    anggota tengah hendaklah ingat,
    di situlah banyak orang yang hilang semangat

    hendaklah peliharakan kaki,
    daripada berjalan yang membawa rugi.



Error
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
Ketika Madihin dan Randai Kuantan Didendangkan, Penonton Pun Terpingkal PDF Cetak Email
Selasa, 28 November 2017 08:48

PEKANBARU,RIAUPLUS.COM- Madihin dan Randai Kuantan merupakan kesenian daerah yang mendapat antusias masyarakat pada Festival Seni Budaya Melayu 2017, yang ditaja Dinas Kebudayaan (Disbud) Riau.

 

 

 

 

Dua kesenian yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dan Kuantan Singingi (Kuansing) ini, tampil memukau di Taman Budaya Riau, Senin (27/11/17) malam. Betapa tidak, alur cerita yang dibawakan para pemain sangat kental dengan kehidupan sehari-hari.

 

Seni Madihin yang dimainkan dua pasangan suami-istri dari Inhil itu, mampu menghidupkan suasana dengan melantunkan sastra lisan berupa Pantun Suku Banjar dengan diiringi musik gendang. Keduanya, tampak fasih dan cekatan dalam balas- membalas pantun.

 

Pantun atau pun puisi yang mereka sampaikan juga sangat menarik dan lucu. Sehingga tidak heran, penonton pun tertawa.

 

Tidak kalah menariknya dengan Madihin, Randai Kuantan yang dimainkan oleh anak-anak muda Kuansing patut diacungi jempol. Kesenian Randai yang memadukan cerita rakyat (drama), musik dan tari ini, menghinoptis para hadirin.

 

Cerita yang diusung para pemain tentang kehidupan keluarga Pak Daud dan Ibu Farida itu, sangat memukau. Apalagi, para pemain begitu kocak dengan bahasa khas Kuansingnya yang membuat para penonton tertawa terpingkal-pingkal.

 

Selain Madihin dan Randai Kuantan, malam itu juga ditampilkan kesenian Dabus dari Kabupaten Indragiri Hulu dan Syair Ibarat Kabar Kiamat dari Inhil. Dua penampilan kesenian ini juga mendapat antusias ratusan penonton.

 

Kepala Dinas Kebudayaan (Kaisbud) Riau Yoserizal Zen mengungkapkan, jika kesenian Madihin, Dabus dan Rantau Kuantan ini, telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan.

 

Menurutnya, melalui Festival Seni Budaya Melayu ini, Pemprov Riau ingin mewujudkan daerah ini menjadi ikon dan pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Apalagi, saat ini banyak kesenian asli Indonesia yang mulai direbut negara tetangga.

 

Yose mencontohkan Kesenian Randai Kuantan, yang juga telah populer di Malaysia. Bahkan, Yose pernah melihat orang Malaysia justru lebih bagus bermain Randai-nya.

 

"Inilah yang namanya musibah Budaya. Banyak kesenian kita yang mulai diambil bangsa lain. Tetapi tentunya, dengan tekad dan upaya kita juga untuk tetap mempertahankan dan melestarikannya,"tutur Yose lagi.nor

 

Galeri Foto

MUNAS APPSI V 2015 di Makassar, Plt Gubri Dukung Tunas Integritas

article thumbnail

Tunjuk Ajar Melayu Tenas Effendy

Wahai ananda kekasih ibu
Pakai olehmu pantun Melayu
Di dalamnya banyak mengandung ilmu
Manfaatnya besar untuk bekalmu