Gurindam 12 Raja Ali Haji

  • Pasal Pertama

    barang siapa tiada memegang agama,
    sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

    barang siapa mengenal yang empat,
    maka ia itulah orang ma'rifat barang siapa mengenal allah,
    suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

    barang siapa mengenal diri,
    maka telah mengenal akan tuhan yang bahari.

    barang siapa mengenal dunia,
    tahulah ia barang yang terpedaya.

    barang siapa mengenal akhirat,
    tahulah ia dunia melarat.




Error
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
Soal Asap, Internasional Harus Paham Kondisi Riau PDF Cetak Email
Senin, 01 November 2010 18:56

PEKANBARU,RIAUPLUS.COM- Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit, mengaku sangat heran dengan sikap dunia internasional yang selalu memojokkan Indonesia khususnya Riau. Padahal, Provinsi Riau paling besar menyumbang hasil hutan dan CPO di seluruh dunia.

Penegasan itu dituturkan Mambang Mit, menyikapi derasnya tekanan dunia internasional, terutama negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia."Padahal kita selalu memberikan pengertian kepada mereka, bahwa hasil-hasil hutan dan perkebunan itu hanya sebagian kecil saja dimanfaat nasional,"sebutnya, Senin (1/11) saat ditemui riauplus.com di Kantor Gubernur Riau.

Mambang mencontohkan, hasil perkebunan CPO yang ada di Riau ini sebagian besar diekspor ke luar negeri."Coba tengok cuma beberapa persenlah yang tinggal, mungkin cuma dua puluh persen saja yang dimanfaat nasional dan daerah,"tegasnya.

Demikian juga dengan hasil-hasil hutan di Riau seperti pulp dan kertas, yang sebagian besar di ekspor ke Singapura dan negara lainnya."Jadi mereka juga harus paham masalah itu. Bahwa kita ini menyumbang untuk kebutuhan internasional,"beber Mambang.

Hanya saja kata Mambang, jika terjadi kebakaran hutan dan asap yang paling menderita itu tetap masyarakat Riau, bukan dunia intenasional."Tapi kita ini kan berjiwa besar. Tak apa-apa,"tuturnya.

Oleh karena itu, Mambang menyarankan harus antisipasi sebelum terjadi kebakaran. Misalnya, dengan memahami gejala potensi mudah terjadinya kebakaran dengan suhu cuaca yang melebihi 30 derajat celsius.

"Kalau kita monitor cuacanya di atas 30 derajat celcius, satu dua hari kita buat hujan buatan. Jadi sebelum kebakaran kita antisipasi. Yang bisa buat hujan buatan itu cuma pusat, karena memang mereka yang memiliki peralatannya,"terangnya.

Mambang mengatakan, kalau dana pembuatan hujan buatan itu bisa mencapai Rp5-7 miliar. Jika dalam satu tahun ada enam kali membuat hujan buatan, maka dananya mencapai Rp30 miliar. Tetapi hal itu tidak sebanding dengan kerugian yang terjadi jika terjadinya kebakaran hutan.

"Kalau hutan terbakar bisa rugi hingga ratusan miliar. Jadi, begitu cuaca panas ekstrim kita minta hujan buatan, selesai. Hanya alam sama alam saja yang bisa mengatasi masalah ini,"tutup Mambang. M Nur Zein

 

Galeri Foto

MUNAS APPSI V 2015 di Makassar, Plt Gubri Dukung Tunas Integritas

article thumbnail

Tunjuk Ajar Melayu Tenas Effendy

Wahai ananda intan di karang
Pantun Melayu jangan dibuang
Di dalamnya banyak amanah orang
Untuk bekalmu di masa datang