Gurindam 12 Raja Ali Haji

  • Pasal Keempat

    hati kerajaan di dalam tubuh,
    jikalau zalim segala anggota pun roboh.

    apabila dengki sudah bertanah,
    datanglah daripadanya beberapa anak panah.

    mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
    di situlah banyak orang yang tergelincir.

    pekerjaan marah jangan dibela,
    nanti hilang akal di kepala.

    jika sedikitpun berbuat bohong,
    boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

    tanda orang yang amat celaka,
    aib dirinya tiada ia sangka.

    bakhil jangan diberi singgah,
    itupun perampok yang amat gagah.

    barang siapa yang sudah besar,
    janganlah kelakuannya membuat kasar.

    barang siapa perkataan kotor,
    mulutnya itu umpama ketur.

    di mana tahu salah diri,
    jika tidak orang lain yang berperi.



Error
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
Terpidana Korupsi Kredit Fiktif BNI Pekanbaru Bayar Denda Rp700 Juta ke Jaksa PDF Cetak Email
Senin, 25 Juni 2018 23:28

PEKANBARU,RIAUPLUS.COM - Terpidana Korupsi kredit fiktif BNI 46 Mulyawarman, menyerahkan pembayaran denda senilai Rp700 juta kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pekanbaru - Riau, Senin (25/6/18).

 


Mulyawarman selaku mantan pimpinan Kanwil 02 BNI (Tahun 2008, red) menjadi pesakitan bersama Ahmad Fauzi, pimpinan Kanwil tahun 2007, di mana keduanya 'terseret' dalam penyimpanan kredit senilai Rp40 Miliar.


Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pekanbaru Sri Odit Megonodo, Senin sore menuturkan, pembayaran tersebut sebesar Rp700 juta. Selanjutnya uang ini disetor ke kas negara dan menjadi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).


"Sekitar jam 11.00 WIB siang tadi diserahkan, keluarganya datang ke sini. Itu uang denda perkara sebesar Rp700 juta, gunakan satu koper berisi pecahan Rp50 ribu," tutur Odit di ruangannya.


Dengan begitu, kata Odit, Mulyawarman tidak lagi menjalani hukuman selama lima bulan atas denda tersebut, dan hanya menjalani pidana pokok selama tujuh tahun. "Hanya menjalani pidana pokoknya selama tujuh tahun," terang Kasi Pidsus Kejari Pekanbaru.


Untuk diketahui, dalam perjalanan perkara, keduanya divonis berbeda oleh Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Ahmad Fauzi dihukum empat tahun penjara (Badan), sementara Mulyawarman lima tahun hukuman.


Putusan ini rendah dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), di mana masing-masing 16 tahun penjara dan membayar denda sebesar Rp700 juta subsider enam bulan.Atas itu, JPU mengajukan banding dan Pengadilan Tinggi menjatuhkan vonis masing-masing lima tahun dan tujuh tahun penjara.grc/nor

 

Galeri Foto

MUNAS APPSI V 2015 di Makassar, Plt Gubri Dukung Tunas Integritas

article thumbnail

Tunjuk Ajar Melayu Tenas Effendy

Wahai ananda bijak bestari
Pantun menjadi suluh negeri
Ilmu tersirat payah dicari
Bila disimak bertuahlah diri