Gurindam 12 Raja Ali Haji

  • Pasal Keempat

    hati kerajaan di dalam tubuh,
    jikalau zalim segala anggota pun roboh.

    apabila dengki sudah bertanah,
    datanglah daripadanya beberapa anak panah.

    mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
    di situlah banyak orang yang tergelincir.

    pekerjaan marah jangan dibela,
    nanti hilang akal di kepala.

    jika sedikitpun berbuat bohong,
    boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

    tanda orang yang amat celaka,
    aib dirinya tiada ia sangka.

    bakhil jangan diberi singgah,
    itupun perampok yang amat gagah.

    barang siapa yang sudah besar,
    janganlah kelakuannya membuat kasar.

    barang siapa perkataan kotor,
    mulutnya itu umpama ketur.

    di mana tahu salah diri,
    jika tidak orang lain yang berperi.



Error
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
  • Unable to load Cache Storage:file
Korupsi RTH, Hakim Minta Gubri Andi juga Bertanggungjawab PDF Cetak Email
Kamis, 03 Mei 2018 18:26

PEKANBARU,RIAUPLUS.COM-Sidang lanjutan perkara korupsi proyek pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas di Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru, yang digelar di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, makin seru untuk diikuti.Pasalnya, hasil keterangan para saksi saksi yang dihadirlan jaksa penuntut, membuat majelis hakim meradang.

 

 

Majelis hakim menilai proyek yang menelan biaya Rp9 miliar itu sudah bobrok dari awal. Bahkan peaksanaan proyek tersebut sarat dengan permainan para oknum-oknum.

 

Untuk itu, majelis hakim meminta jaksa untuk menetapkan PPTK yakni, Armansyah sebagai tersangka. Selain itu, dalam pembangunan RTH ini, Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rahman juga harus bertanggungjawab.

 

Berdasarkan keeterangan saksi Yusrizal selaku PPK dan Ikhwan Sunardi, Sekretaris Pokja, Hariyanto, dan anggota Pokja Desi Iswanti, Rica Martiwi, Hoprizal, Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) Adriansyah, Akrima ST juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Silvia, Kamis (3/5/18) siang, terungkap jika proyek sudah bobrok sejak dari perencanaan. Para saksi menjelaskan, bahwa perencanaannya sudah dilaksanakan sejak tahun 2012 dengan dana Rp12 miliar, tetapi tak pernah terlaksana hingga diulang kembali pada tahun 2016. Begitu juga saat dilakukan proses lelang.

 

Pada saat proses lelang, saksi Ikhwan Sunardi, selaku Ketua Pokja, sudah diberitahu oleh terdakwa Dwi Agus Sumarno, jika pemenang lelangnya nanti PT Bumi Riau Lestari. Akan tetapi pengerjaan dikerjakan oleh terdakwa Yuliana J Baskoro selaku kontraktor.

 

Selain itu, pada perencanaan awal juga diintrusikan oleh Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi Rahman kepada terdakwa Dwi Agus dan Armansyah, PPTK serta saksi Ikhwan selaku PPK. Laporan perencanaan dilaporkan PPTK langsung ke Dwi Agus tanpa melalui KPA yakni Iriyanto Rab.

 

Lanjut Ikhwan juga menyarankan kepadanya kalau yang mengerjakan proyek nanti adalah Yuliana. Keterangan Ikhwan yang hampir sama dengan keterangan saksi sebelumnya, Dedi Wahyudi selaku Direktur dan Dian Melani selaku karyawan di perusahaan tersebut.

 

Mendengar keterangan saksi itu hakim Waruwu langsung meradang. Menurutnya, proyek sudah banyak akal-akalannya.

 

"Para Pokja jadi tersangka, PPK juga tersangka. Kok PPTK-nya Armansyah tidak tersangka, kan aneh. Saudara jaksa, macam mana proses penyidikan ini, semacam ada tebang pilih,"tegas Waruwu.

 

"Saya minta kepada jaksa untuk jadikan PPTK-nya sebagai tersangka. Kemudian dalam hal ini, Gubernur juga harus bertanggung jawab ini. Dia sudah tau kalau perencaan proyek bobrok, kok malah tetap dilanjutkan," tegas Waruwu.

 

Dwi Agus sendiri tersentak mendengar ucapan hakim itu. Demikian juga para jaksa penuntut yang mengahdirkan saksi serta terdakwa Yuliana J Baskora serta Rinaldi.Jaksa pun langsung menanggapi dan akan menindak lanjuti permintaan majelis hakim tersebut.nor

 

 

Galeri Foto

MUNAS APPSI V 2015 di Makassar, Plt Gubri Dukung Tunas Integritas

article thumbnail

Tunjuk Ajar Melayu Tenas Effendy

Wahai ananda dengarlah amanat
Pantun memantun sudah teradat
Di dalamnya banyak berisi nasehat
Bila dipakai hidup selamat